Oleh Nasrudin Nur Isnaini
Umat Islam merupakan salah satu golongan umat beragama yang besar di dunia. Di Negara-negara Barat saat ini seperti Inggris dan Amerika Serikat, pertumbuhan Umat Islam mengalami kemajuan pesat. Banyak rumah ibadah terutama Agama Kristen yang berubah menjadi masjid. Tentu hal tersebut bukan karena paksaan, mereka secara sukarela memilih untuk menjadi muslim. Di Barat, fenomena orang berpindah agama dari Kristen kepada Islam begitu masif. Tidak hanya pemeluk kristen, tapi juga orang-orang atheis yang awalnya tidak mengakui keberadaan Tuhan dalam hidup ini.
Fenomena ini diawali oleh aksi terorisme 911 yang ada di New York. Waktu itu diberitakan bahwa Islam adalah terorisme. Atas dasar rasa penasaran itu mulailah warga Amerika membaca buku-buku Islam, Kitab Al-quran dan sumber-sumber Islam lainnya. Alhasil pandangan mereka yang negatif terhadap Umat Islam dan Agama Islam, lambat laun menjadi berkurang.
Bagaimana dengan keadaan Umat Islam di Tanah Air? Di sini Umat Islam menjadi umat mayoritas. Setidaknya mereka yang mengaku Islam dengan dibuktikan dengan KTP. Walaupun secara pengamalan malah justru banyak yang jauh dari Islam. Umat Islam di tanah air memiliki keunikan dibanding di negara lain. Ianya memiliki banyak sekali ragam budaya dan tradisi. Selain itu hanya di Indonesia inilah Mahzab Ajaran Islam begitu lengkap.
Dalam hal kekayaan budaya dan tradisi, Umat Islam di Indonesia memang unggul. Akan tetapi mari kita lihat dalam pengamalan sehari-harinya. Tingkat keramaian masjid misalnya, akan sering kita dapati minimnya jamaah sholat di masjid terutama sholat Subuh. Dalam hal kebersihan misalnya, ajaran Islam memerintahkan untuk menjaga kebersihan tapi dalam praktik keseharian Umat Islam malah jauh dari hal itu. Kalau kita berjalan di jalanan kota-kota di tanah air, jelas akan mudah kita jumpai sampah berserakan dimana-mana. Beda dengan di negara maju seperti Singapura. Konon di sana orang akan berfikir dua kali kalau mau membuang sampah sembarangan. Padahal di Singapura, mayoritas pemeluk agamanya bukan Islam.
Dalam praktik bernegara, berapa banyak pejabat yang beragama Islam yang terjerat kasus korupsi. Bahkan kalau kita simak, di sebuah kementerian Agama pun yang notabene harus menjadi tauladan kebaikan malah justru terdapat kasus korupsi yang jumlahnya besar. Yang dikorupsi tidak tanggung-tanggung, yakni kegiatan ibadah haji dan pengadaan Kitab Suci Al-Quran, sungguh terlalu. Penginternalisasian nilai keagamaan khususnya Agama Islam terbukti masih jauh dari harapan. Seharusnya semakin relegius seseorang, kemauan untuk melakukan korupsi juga menurun. Namun itu semua hanyalah fatamorgana, orang hanya terlihat religius karena menggunakan simbol-simbol keislaman semisal peci, baju koko, atau sarung tetapi tidak betul-betul religius di dalam hatinya.
Di negeri ini pun, toleransi antarpemeluk mahzab Islam juga cukup mengkhawatirkan, terutama akhir-akhir ini. Sebagi contoh pembubaran kajian yang diselenggarakan oleh Ustadz Felix Siauw oleh kelompok tertentu beberapa waktu lalu. Ini menjadi catatan buruk kehidupan toleransi keagamaan khususnya toleransi antarmahzab Islam. Ini sungguh mengkhawatirkan, ormas yang dimana-mana “jualan” toleransi malah justru menjadi terdepan dalam pembubaran kegiatan pengajian oleh kelompok yang dianggap berbeda. Seharusnya kelompok yang mendewa-dewakan toleransi ini menunjukkan praktik yang benar bukan malah mencontohkan hal-hal yang merugikan Umat Islam.
Dalam hal ekonomi, Umat Islam juga masih tertinggal dibandingkan umat yang lain, sebut saja Yahudi. Umat Islam selalu menjadi bulan-bulanan Umat Yahudi. Terutama dalam hal media. Umat yahudi adalah penguasa sesungguhnya media-media pemberitaan baik di koran maupun di televisi. Korbannya juga lagi-lagi Umat Islam. Islam dan Umat Islam dicitrakan begitu buruk di media-media miliknya Yahudi, entah dituduh teroris, kriminal, primitif, dan lain sebagainya yang sangat tidak pantas.
Secara ekonomi, Umat Islam masih jauh tertinggal. Bahkan di negeri kita mayoritas orang miskin adalah orang-orang Islam. Mereka seakan-akan diperas oleh minoritas di negeri ini yang kebanyakan orang non Islam dan kaum pendatang. Padahal saham terbesar dalam memerdekakan negeri ini dari penjajahan adalah orang Islam. Karena miskin itulah Umat Islam menjadi mudah untuk tergoda dengan iming-iming duniawi. Akibatnya banyak kita jumpai di pelosok negeri mereka yang menjual aqidahnya demi keuntungan materi. Amat disayangkan memang, maka dari itu umat harus merdeka dari jeratan ekonomi yang dapat memunculkan potensi jual beli aqidah umat. Dai dan ulama tidak cukup hanya memberi saran melalui mimbar-mimbar masjid dan seminar, namun harus ada gerakan nyata pemuka untuk menstimulasi ekonomi umat. Jika ekonomi umat kuat, saya yakin kita akan menjadi umat yang mampu memberikan kemanfaatan sebesar-besarnya untuk negeri ini, bahkan dunia. Dalam keadaan yang sekarang saja kita bersyukur bisa ikut membantu kehidupan saudara kita di Palestina, apalagi suatu saat nanti kita menjadi umat yang berdaya saing ekonomi, maka akan semakin mudah untuk membebaskan saudara kita dari penjajahan Zionist Israel.
Secara ilmu pengetahuan, kondisi Umat Islam saat ini juga mengalami kemunduran. Dahulu Islam menjadi pioner kebangkitan ilmu pengetahuan baik di dunia arab maupun Barat. Eropa mengalami kebangkitan dari zaman kegelapan karena adanya sumbangsih peradaban dari Islam. Lalu Eropa mencapai puncak kejayaannya saat ini, sedangkan Umat Islam yakni dunia Arab dan juga Nusantara menunjukkan trend penurunan. Keadaan ini membuat Umat Islam harus sadar dan segera bangkit. Ketika teknologi dan ilmu pengetahuan tidak kita kuasai, lalu bagaimana kita bisa menjadi solusi di tengah penderitaan manusia akibat kesenjangan dan eksplorasi alam yang begitu luar biasa ini. Umat Islam melalui campur tangan negara harus bisa mandiri dan berdaya saing agar tidak terus-terusan hanya menjadi pasar penjualan produk-produk teknologi Barat. Negeri-negeri Islam harus bisa menciptakan karya teknologinya sendiri agar tidak didikte oleh kepentingan asing.
Di tanah air, kondisi perpolitikan saat ini mengalami situasi yang panas. Sebentar lagi kita akan menghadapi tahun pemilu terutama pilihan presiden. Umat Islam dihadapkan pada pilihan yang beragam. Suara Umat Islam juga sedang menjadi incaran banyak pihak. Semua golongan sedang berlomba-lomba mendapatkan simpati dari Umat Islam. Tokoh-tokoh dan pemuka Agama digandeng mesra demi meraup suara umat. Bahkan dari salah satu kubu calon presiden pun tidak tanggung-tanggung menggandeng tokoh sesepuhnya ormas Islam terbesar di Indonesia. Di tahun politik ini semua pihak akan mendekat kepada Umat Islam, banyak diantaranya yang menjanjikan jabatan bermacam-macam asal suara bisa didapatkan. Umat Islam melalui ormas-ormasnya kembali pecah satu sama lain terkait dukungan politiknya. Sangat disayangkan memang, seharusnya dengan jumlah Umat Islam yang besar ini dan dapat dikelola dengan baik tentu akan menghasilkan satu kekuatan politik yang kuat untuk mengalahkan dominasi-dominasi negara-negara asing yang antiIslam. Sekali lagi pekerjaan rumah Umat Islam saat ini tidak ringan, butuh perjuangan besar untuk menyelesaikannya.
Fenomena ini diawali oleh aksi terorisme 911 yang ada di New York. Waktu itu diberitakan bahwa Islam adalah terorisme. Atas dasar rasa penasaran itu mulailah warga Amerika membaca buku-buku Islam, Kitab Al-quran dan sumber-sumber Islam lainnya. Alhasil pandangan mereka yang negatif terhadap Umat Islam dan Agama Islam, lambat laun menjadi berkurang.
Bagaimana dengan keadaan Umat Islam di Tanah Air? Di sini Umat Islam menjadi umat mayoritas. Setidaknya mereka yang mengaku Islam dengan dibuktikan dengan KTP. Walaupun secara pengamalan malah justru banyak yang jauh dari Islam. Umat Islam di tanah air memiliki keunikan dibanding di negara lain. Ianya memiliki banyak sekali ragam budaya dan tradisi. Selain itu hanya di Indonesia inilah Mahzab Ajaran Islam begitu lengkap.
Dalam hal kekayaan budaya dan tradisi, Umat Islam di Indonesia memang unggul. Akan tetapi mari kita lihat dalam pengamalan sehari-harinya. Tingkat keramaian masjid misalnya, akan sering kita dapati minimnya jamaah sholat di masjid terutama sholat Subuh. Dalam hal kebersihan misalnya, ajaran Islam memerintahkan untuk menjaga kebersihan tapi dalam praktik keseharian Umat Islam malah jauh dari hal itu. Kalau kita berjalan di jalanan kota-kota di tanah air, jelas akan mudah kita jumpai sampah berserakan dimana-mana. Beda dengan di negara maju seperti Singapura. Konon di sana orang akan berfikir dua kali kalau mau membuang sampah sembarangan. Padahal di Singapura, mayoritas pemeluk agamanya bukan Islam.
Dalam praktik bernegara, berapa banyak pejabat yang beragama Islam yang terjerat kasus korupsi. Bahkan kalau kita simak, di sebuah kementerian Agama pun yang notabene harus menjadi tauladan kebaikan malah justru terdapat kasus korupsi yang jumlahnya besar. Yang dikorupsi tidak tanggung-tanggung, yakni kegiatan ibadah haji dan pengadaan Kitab Suci Al-Quran, sungguh terlalu. Penginternalisasian nilai keagamaan khususnya Agama Islam terbukti masih jauh dari harapan. Seharusnya semakin relegius seseorang, kemauan untuk melakukan korupsi juga menurun. Namun itu semua hanyalah fatamorgana, orang hanya terlihat religius karena menggunakan simbol-simbol keislaman semisal peci, baju koko, atau sarung tetapi tidak betul-betul religius di dalam hatinya.
Di negeri ini pun, toleransi antarpemeluk mahzab Islam juga cukup mengkhawatirkan, terutama akhir-akhir ini. Sebagi contoh pembubaran kajian yang diselenggarakan oleh Ustadz Felix Siauw oleh kelompok tertentu beberapa waktu lalu. Ini menjadi catatan buruk kehidupan toleransi keagamaan khususnya toleransi antarmahzab Islam. Ini sungguh mengkhawatirkan, ormas yang dimana-mana “jualan” toleransi malah justru menjadi terdepan dalam pembubaran kegiatan pengajian oleh kelompok yang dianggap berbeda. Seharusnya kelompok yang mendewa-dewakan toleransi ini menunjukkan praktik yang benar bukan malah mencontohkan hal-hal yang merugikan Umat Islam.
Dalam hal ekonomi, Umat Islam juga masih tertinggal dibandingkan umat yang lain, sebut saja Yahudi. Umat Islam selalu menjadi bulan-bulanan Umat Yahudi. Terutama dalam hal media. Umat yahudi adalah penguasa sesungguhnya media-media pemberitaan baik di koran maupun di televisi. Korbannya juga lagi-lagi Umat Islam. Islam dan Umat Islam dicitrakan begitu buruk di media-media miliknya Yahudi, entah dituduh teroris, kriminal, primitif, dan lain sebagainya yang sangat tidak pantas.
Secara ekonomi, Umat Islam masih jauh tertinggal. Bahkan di negeri kita mayoritas orang miskin adalah orang-orang Islam. Mereka seakan-akan diperas oleh minoritas di negeri ini yang kebanyakan orang non Islam dan kaum pendatang. Padahal saham terbesar dalam memerdekakan negeri ini dari penjajahan adalah orang Islam. Karena miskin itulah Umat Islam menjadi mudah untuk tergoda dengan iming-iming duniawi. Akibatnya banyak kita jumpai di pelosok negeri mereka yang menjual aqidahnya demi keuntungan materi. Amat disayangkan memang, maka dari itu umat harus merdeka dari jeratan ekonomi yang dapat memunculkan potensi jual beli aqidah umat. Dai dan ulama tidak cukup hanya memberi saran melalui mimbar-mimbar masjid dan seminar, namun harus ada gerakan nyata pemuka untuk menstimulasi ekonomi umat. Jika ekonomi umat kuat, saya yakin kita akan menjadi umat yang mampu memberikan kemanfaatan sebesar-besarnya untuk negeri ini, bahkan dunia. Dalam keadaan yang sekarang saja kita bersyukur bisa ikut membantu kehidupan saudara kita di Palestina, apalagi suatu saat nanti kita menjadi umat yang berdaya saing ekonomi, maka akan semakin mudah untuk membebaskan saudara kita dari penjajahan Zionist Israel.
Secara ilmu pengetahuan, kondisi Umat Islam saat ini juga mengalami kemunduran. Dahulu Islam menjadi pioner kebangkitan ilmu pengetahuan baik di dunia arab maupun Barat. Eropa mengalami kebangkitan dari zaman kegelapan karena adanya sumbangsih peradaban dari Islam. Lalu Eropa mencapai puncak kejayaannya saat ini, sedangkan Umat Islam yakni dunia Arab dan juga Nusantara menunjukkan trend penurunan. Keadaan ini membuat Umat Islam harus sadar dan segera bangkit. Ketika teknologi dan ilmu pengetahuan tidak kita kuasai, lalu bagaimana kita bisa menjadi solusi di tengah penderitaan manusia akibat kesenjangan dan eksplorasi alam yang begitu luar biasa ini. Umat Islam melalui campur tangan negara harus bisa mandiri dan berdaya saing agar tidak terus-terusan hanya menjadi pasar penjualan produk-produk teknologi Barat. Negeri-negeri Islam harus bisa menciptakan karya teknologinya sendiri agar tidak didikte oleh kepentingan asing.
Di tanah air, kondisi perpolitikan saat ini mengalami situasi yang panas. Sebentar lagi kita akan menghadapi tahun pemilu terutama pilihan presiden. Umat Islam dihadapkan pada pilihan yang beragam. Suara Umat Islam juga sedang menjadi incaran banyak pihak. Semua golongan sedang berlomba-lomba mendapatkan simpati dari Umat Islam. Tokoh-tokoh dan pemuka Agama digandeng mesra demi meraup suara umat. Bahkan dari salah satu kubu calon presiden pun tidak tanggung-tanggung menggandeng tokoh sesepuhnya ormas Islam terbesar di Indonesia. Di tahun politik ini semua pihak akan mendekat kepada Umat Islam, banyak diantaranya yang menjanjikan jabatan bermacam-macam asal suara bisa didapatkan. Umat Islam melalui ormas-ormasnya kembali pecah satu sama lain terkait dukungan politiknya. Sangat disayangkan memang, seharusnya dengan jumlah Umat Islam yang besar ini dan dapat dikelola dengan baik tentu akan menghasilkan satu kekuatan politik yang kuat untuk mengalahkan dominasi-dominasi negara-negara asing yang antiIslam. Sekali lagi pekerjaan rumah Umat Islam saat ini tidak ringan, butuh perjuangan besar untuk menyelesaikannya.
~sekian semoga menjadi pengingat bagi kita semua ~

No comments:
Post a Comment