Di tengah bencana alam yang bertubi-tubi melanda negeri tercinta kita, ada bencana yang juga tak kalah dahsyatnya menimpa dunia persepakbolaan nasional. Saat ini Indonesia sedang mengalami situasi kegelapan (dark age) dunia sepakbola. Federasi yang bertanggung jawab atas kemajuan sepak bola tanah air mengalami cacat mental dan missmanajemen. Sayangnya mereka-mereka yang diamanahi duduk di jajaran pengurus federasi masih merasa ayem tentrem nyaman-nyaman saja dengan situasi ini.
Evan Dimas dan kawan -kawan terseok-seok di Piala AFF, bahkan sebelum menyelesaikan sisa satu laganya sudah dinyatakan tersingkir karena kalah perolehan poin dengan Thailand dan Philipina. Miris! Bagaimana mungkin harapan begitu besar dari para fans sepakbola tanah air selama ini malah justru dijawab dengan tontonan prestasi yang buruk, bahkan bisa dibilang hancur. Ini betul-betul memuakkan. Lebih memuakkan lagi kalau melihat para pengurus federasi sepakbola (PSSI) yang amburadul itu. Publik tanah air tidak bermaksud menghujat permainan tim nasional yang dilatih Bima Sakti ini. Karena lagi-lagi pemain dan pelatih hanyalah korban dari tidak becusnya para pemangku kebijakan. Tapi lebih kepada para pengurus federasi sepakbola PSSI. Lihat saja, ketua PSSI nya kelihatan tamak jabatan dengan nyambi menjadi kepala daerah. Publik sepakbola mengharapkan agar Edy Rahmayadi agar fokus menjadi gubernur saja dan mundur dari jabatan ketua PSSI.
Contohlah perilaku ketua-ketua federasi di luar negeri sana, dimana begitu timnasnya bermain buruk langsung mengundurkan diri. Seperti Ketua Federasi Sepakbolanya Italia (FIGC) saat Italia gagal masuk Piala dunia di Rusia kemarin. Atau tidak usah jauh-jauh ke negerinya Allesandro Del Piero, contoh yang dekat sudah ada yakni di Malaysia. Begitu timnasnya jelek langsung dengan legowo ketuanya mengundurkan diri. Kita masih heran memang dengan perilaku orang-orang tamak jabatan di negeri ini. Maunya punya jabatan ganda, kinerja asal-asalan, hanya ingin mencari kekuasaan . Tidakkah punya rasa malu?
Coba kita flashback sebentar, di awal-awal tahun 2018. Kita sebagai publik sepak bola tanah air bisa muncul harapan begitu besar saat hadirnya pelatih yang merupakan mantan pemain Tim Nasional Spanyol, Luis Milla ke negeri kita ini.Ibarat sedang kehausan di tengah Gurun Sahara yang begitu panasnya tiba-tiba menemukan oase dengan sumber mata air yang jernih. Kita semua bersuka cita, deg deg ser dan penasaran jadi seperti apa timnas kita setelah dilatih Milla. Dalam waktu tidak begitu lama, beberapa lini permainan mulai dibenahi. Kerja keras Luis Milla dan tim menuai hasilnya.
Alhasil publik diperlihatkan permainan cantik khas Spanyol yang berkelas dunia. Publik merasa terhibur, puas dengan capaian Luis Milla. Publik menemukan sebuah kemajuan pesat permainan timnas, dimana penguasaan bola menjadi begitu baik, passing-passing juga akurat dan shooting jarak jauh pun mengarah dengan tepat. Intinya publik sangat puas. Publik mengelu-elukan Luis Milla. Ada harapan besar untuk bisa menjuarai piala AFF tahun ini. Namun gelombang ujian bagi Luis Milla mulai datang, pertengahan tahun 2018 kinerja pelatih dinilai gagal oleh federasi, entah maksudnya gagal itu seperti apa, mungkin karena PSSI maunya hasil instan bisa menjuarai semua turnamen bergengsi, padahal pembentukan tim sepakbola butuh proses yang tidak singkat. Akhirnya nasib pelatih berkebangsaan Spanyol ini mulai tidak jelas.
Selidik punya selidik manajemen PSSI ini ternyata absurd juga,pembayaran gaji pelatih dan tim mengalami penunggakan. Jangan-jangan selama ini PSSI tidak membayar gaji pelatih ya? Mendengar kabar itu seluruh fans tanah air mengelus dada, tersyat-sayat hati menyayangkan sikap PSSI yang arogan tersebut. Betapa pelatih favorit para fans tanah air diperlakukan seperti itu oleh orang-orang yang gagal mengelola federasi. Setelah itu malah muncul kabar dipecatnya Luis Milla semakin santer di telinga para fans, di sisi lain para pengurus PSSI terlihat tidak mau ambil pusing menanggapi pertanyaan media yang mewakili suara hati pecinta sepakbola tanah air. Malah ketua PSSI Edy Rahmayadi justru mengatakan “besok Luis Milla akan tiba di tanah air dan kembali melatih timnas”. Ucapan itu tentu tak terbukti, hanya sekadar sebagai pemanis ucapan dan penurun tensi tekanan dari publik. Dan betul saja, Luis Milla tidak pernah datang lagi dan melatih timnas sepakbola Indonesia.
Ketidakhadiran pelatih top berkebangsaan Spanyol itu memberi efek yang begitu nyata di tubuh timnas, meskipun pengganti pelatihnya sekarang adalah mantan asisten Luis Milla itu sendiri. Kekalahan demi kekalahan terus dialamai timnas, dari sisi permainan juga sangat buruk, tidak ada visi bermain yang jelas dan terlihat hanya asal-asalan. Praktis sampai detik ini Timnas hanya bisa unggul melawan tim yang rutin juru kunci, Timor Leste. Melawan Singapura dan Thailand mengalami kekalahan, belum lagi nanti saat melawan Philipina yang sekarang dilatih pelatih terbaik tim nasional Inggris era David Beckham.
Harapan Pecinta Sepakbola tanah air sebenarnya sederhana,tidak ingin agar timnas semakin terpuruk kalau bisa sih dapet piala AFF. Intinya publik ingin agar timnas kembali berjaya seperti saat dilatih Luis Milla, dan tentunya para pengurus PSSI mulai dari ketuanya harus mau mundur baik dengan legowo atau terpaksa demi kepentingan nasional tim sepakbola Indonesia ! Kalau tidak, lalu mau dibawa kemana Sepak bola kita wahai Bapak Gubernur?
#EdyOut #RevolusiPSSI #KembalikanLuisMilla.
